Selasa, 01 Desember 2015

Pendaki Bijak Panen Nikmat
Alam merupakan anugerah dari Allah SWT yang luar biasa. Berbagai wajah alam terlukis indah di atas bumi ini. Keelokan alam menjadi daya tarik manusia untuk mengeksplorasinya. Daya tarik itulah yang membuat suatu kondisi geografi berpotensi wisata. Apalagi Indonesia dengan kekayaan alamnya yang melimpah. Dari laut hingga gunung sudah dijamah oleh banyak orang.
Dengan tren masa kini yang digandrungi anak muda adalah mendaki. Entah gunung yang rendah maupun tinggi sekalipun menjadi sasarannya. Semua itu dilakukan karena tren masa kini katanya. Mereka melakukannya demi melihat matahari terbit di puncak tertinggi. Maupun hanya untuk sekadar merayakan tahun baru dengan suasana berbeda.
Mendaki gunung termasuk olahraga berat. Selain itu, diperlukan kemampuan dalam melakukan aktivitas tersebut. Mendaki gunung adalah bagian dari mountaineering. Mountaineering adalah pengetahuan tentang gunung hutan. Pendaki harus menguasai pengetahuan ini. Biasanya pendaki meremehkan hal tersebut. Padahal dengan mengabaikannya berarti sama saja dengan meremehkan nyawa.
Pendaki biasanya menantang untuk sampai ke puncak dengan jalur yang ia buat sendiri. Namun, sekadar kompas atau peta topografi pun tidak dibawa. Apalagi mereka melakukannya tanpa memiliki kemampuan navigasi. Apabila sudah ada jalur resmi pendakian, lebih baik melewati jalur tersebut untuk mengurangi risiko tersesat.
Buruknya manajemen logistik dapat menjadi kesalahan fatal dalam pendakian. Kebutuhan logistik seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan pendaki. Terutama kebutuhan asupan kalori. Selain itu obat-obatan dan alat pertolongan pertama pada kecelakaan penting untuk dibawa. Membawa kebutuhan logistik pun tidak boleh dicukup-cukupkan. Logistik harus dilebihi paling tidak untuk satu hari lagi. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir apabila terjadi hal yang tidak diinginkan.
Dalam hal pengepakan barang juga perlu diperhatikan. Pendaki membawa barang sesuai dengan kebutuhannya saja. Jangan sampai ada barang yang diletakkan di luar ransel apalagi ditenteng. Hal tersebut dapat mengganggu kenyamanan bergerak. Barang-barang yang ada di dalam ransel juga perlu dilindungi dari hujan. Hal itu dilakukan untuk menjaga agar tetap kering. Kondisi gunung dengan suhu dingin ditambah pakaian yang dipakai basah dapat menyebabkan hipotermia.
Sistem kelompok dalam pendakian juga penting. Namun, dengan catatan anggota kelompok itu jangan terlalu banyak. Dengan banyak anggota kelompok, maka akan sulit untuk koordinasi. Sulit untuk pembagian logistik dan manajemen perjalanan. Idealnya satu kelompok terdiri dari empat sampai enam orang.
Rasa egois juga harus disingkirkan dalam kelompok. Mendaki gunung bersama bukan berarti the first is the winner. Akan tetapi kekompakan dan rasa saling menjaga itu penting. Mendaki dengan kelompok harus saling peduli satu sama lain. Satu tidak sampai puncak maka semuanya tidak sampai puncak.
Selain mountaineering yang harus dikuasai. Kita juga harus menghormati alam. Menjadikan alam sebagai sahabat kita, bukan sebagai musuh. Dengan slogan keep nothing but picture, leave nothing but footprint, kill nothing but time. Kita harus memposisikan diri kita sebagai sahabat alam.
Mari kita sikapi alam dengan bijak. Memulai dengan bijak terhadap diri sendiri bahwa nyawa itu berharga. Bijak terhadap arti solidaritas bukan mengutamakan keegoisan. Bijak terhadap alam bahwa dengan mencapai puncak bukan berarti telah menaklukkan alam. Namun, mencapai puncak sama saja telah menaklukkan diri sendiri. Dengan menjadi pendaki bijak, maka akan terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Selain itu, mendapat nikmat berlimpah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar