Pendaki
Bijak Panen Nikmat
Alam merupakan anugerah dari Allah
SWT yang luar biasa. Berbagai wajah alam terlukis indah di atas bumi ini.
Keelokan alam menjadi daya tarik manusia untuk mengeksplorasinya. Daya tarik
itulah yang membuat suatu kondisi geografi berpotensi wisata. Apalagi Indonesia
dengan kekayaan alamnya yang melimpah. Dari laut hingga gunung sudah dijamah
oleh banyak orang.
Dengan tren masa kini yang digandrungi anak muda adalah mendaki. Entah gunung yang rendah maupun tinggi
sekalipun menjadi sasarannya. Semua itu dilakukan karena tren masa kini katanya. Mereka melakukannya
demi melihat matahari terbit di puncak tertinggi. Maupun hanya untuk sekadar
merayakan tahun baru dengan suasana berbeda.
Mendaki gunung termasuk olahraga
berat. Selain itu, diperlukan kemampuan dalam melakukan aktivitas tersebut.
Mendaki gunung adalah bagian dari mountaineering.
Mountaineering adalah pengetahuan
tentang gunung hutan. Pendaki harus menguasai pengetahuan ini. Biasanya pendaki
meremehkan hal tersebut. Padahal dengan mengabaikannya berarti sama saja dengan
meremehkan nyawa.
Pendaki biasanya menantang untuk
sampai ke puncak dengan jalur yang ia buat sendiri. Namun, sekadar kompas atau
peta topografi pun tidak dibawa. Apalagi mereka melakukannya tanpa memiliki
kemampuan navigasi. Apabila sudah ada jalur resmi pendakian, lebih baik
melewati jalur tersebut untuk mengurangi risiko tersesat.
Buruknya manajemen logistik
dapat menjadi kesalahan fatal dalam pendakian. Kebutuhan logistik seharusnya
disesuaikan dengan kebutuhan pendaki. Terutama kebutuhan asupan kalori. Selain
itu obat-obatan dan alat pertolongan pertama pada kecelakaan penting untuk
dibawa. Membawa kebutuhan logistik pun tidak boleh dicukup-cukupkan. Logistik
harus dilebihi paling tidak untuk satu hari lagi. Hal itu dilakukan untuk
meminimalisir apabila terjadi hal yang tidak diinginkan.
Dalam hal pengepakan barang juga
perlu diperhatikan. Pendaki membawa barang sesuai dengan kebutuhannya saja.
Jangan sampai ada barang yang diletakkan di luar ransel apalagi ditenteng. Hal
tersebut dapat mengganggu kenyamanan bergerak. Barang-barang yang ada di dalam
ransel juga perlu dilindungi dari hujan. Hal itu dilakukan untuk menjaga agar
tetap kering. Kondisi gunung dengan suhu dingin ditambah pakaian yang dipakai
basah dapat menyebabkan hipotermia.
Sistem kelompok dalam pendakian
juga penting. Namun, dengan catatan anggota kelompok itu jangan terlalu banyak.
Dengan banyak anggota kelompok, maka akan sulit untuk koordinasi. Sulit untuk
pembagian logistik dan manajemen perjalanan. Idealnya satu kelompok terdiri
dari empat sampai enam orang.
Rasa egois juga harus
disingkirkan dalam kelompok. Mendaki gunung bersama bukan berarti the first is the winner. Akan tetapi
kekompakan dan rasa saling menjaga itu penting. Mendaki dengan kelompok harus
saling peduli satu sama lain. Satu tidak sampai puncak maka semuanya tidak
sampai puncak.
Selain mountaineering yang harus dikuasai. Kita juga harus menghormati
alam. Menjadikan alam sebagai sahabat kita, bukan sebagai musuh. Dengan slogan keep nothing but picture, leave nothing but
footprint, kill nothing but time. Kita harus memposisikan diri kita sebagai
sahabat alam.
Mari kita sikapi alam dengan
bijak. Memulai dengan bijak terhadap diri sendiri bahwa nyawa itu berharga.
Bijak terhadap arti solidaritas bukan mengutamakan keegoisan. Bijak terhadap
alam bahwa dengan mencapai puncak bukan berarti telah menaklukkan alam. Namun,
mencapai puncak sama saja telah menaklukkan diri sendiri. Dengan menjadi
pendaki bijak, maka akan terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Selain itu,
mendapat nikmat berlimpah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar